Asal Usul Rendang

Asal Usul Rendang. Rendang berasal dari bahasa Minang “Randang”. Di kota asalnya Sumatera Barat, marandang berarti memasak atau mengolah masakan dalam waktu yang lama sehingga masakan menjadi kering atau tidak mengandung air. Teknik pemasakan hingga nihil air ini bertujuan agar hasil masakan bisa awet, tahan lama hingga berbulan-bulan.

asal usul rendang

Mengenai asal usul rendang itu sendiri da beberapa pendapat. Menurut sumber yang dikutip dari situs Republika, keberadaan rendang mendapat pengaruh dari Portugis. Balado yang serupa dengan masakan asal Portugis, hampir mirip dengan Kalio yang merupakan rendang basah. Dimana jika kalio ini dimasak kembali hingga kering akan didapatkan rendang.

Asal Usul Rendang Dari Minang?

Asal usul rendang juga erat kaitannya dengan kebiasaan orang Minang merantau atau bepergian. Rendang yang kering dan awet merupakan bekal merantau bagi orang Minang. Pada awal abad ke 16, orang Minang mulai merantau dan berlayar ke Malaka untyk berdagang. Saat itu, Malaka merupakan salah satu pusat perdagangan karena merupakan tempat persinggahan bagi kapal saydagar dari berbagai negara. Ini karena Malaka memiliki posisi yang strategis sebagai semenanjung yang merupakan batas perairan dari beberapa negara.

Kemudian banyak orang Minang yang merantau ke berbagai daerah. Selain untuk bekerja sebagai pegawai, berdagang, banyak diantara perantau Minang yang berwirausaha dengan membuka rumah makan atau restoran Padang dengan Rendang sebagai salai satu menu utamanya. Dari sinilah rendang semakin dikenal luas dan disukai banyak orang dari berbagai daerah.

Bagi orang Minang, memasak rendang memiliki tiga makna Filosofis. Filosofi tersebut antara lain kegigihan, kesabaran dan kebijaksanaan. Ketika memasak rendang, jelas dibutuhkan kegigihan dalam mengaduk agar bumbu-bumbu tercampur rata, lebih meresap ke dalam daging dan agar santan tidak rusak. Kesabaran dibutuhkan dalam proses pemasakan karena dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan rendang yang kering dan awet. Proses pemasakan rendang juga memerlukan pengaturan suhu, oleh karenanya diperlukan kebijaksanaan dalam mengatur suhu panas selama hampir 7 jam proses pemasakan.

Bahan-bahan dalam pembuatan rendang juga mengandung filosofi sebagai cerminan masyarakat Minang. Daging sapi sebagai bahan utama mencerminkan pemimpin yang harmonis. Kelapa/santan melambangkan kaum cerdik pandai, yaitu cendekiawan yang membantu pemimpin dalam memecahkan masalah. Lada dan cabai yang rasnaya pedas melambangkan ulana Minang yang tegas. Banyaknya rempah-rempah yang digunakan mencerminkan masyarakat yang beraneka ragam dengan adanya suku-suku kecil

Ada hal yang juga menjadi pertanyaan saat kita mampir di rumah makan Padang. Kalau kita perhatikan, jika kita membeli nasi Padang dengan cara dibungkus, akan mendapatkan porsi nasi yang lebih banyak daripada saat kita makan langsung di tempat. Konon, hal ini dikarenakan pada jaman xahulu, rumah makan Padang lebih banyak dikunjungi oleh orang-orang Belanda dan orang-orang kaya. Sehingga saat ada pribumi atau masyarakat miskin yang membeli dengan cara dibungkus akan diberi porsi yang lebih banyak agar bisa dimakan bersama keluarganya di rumah. Hal itu menjadi kebiasaan, yang sampai sekarang masih diterapkan oleh banyak rumah makan Padang.

Baca juga: rendang jengkol kemasan

*ibl*

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ArabicChinese (Simplified)DutchEnglishFrenchGermanIndonesianTurkish